Popular Posts

Sunday, November 14, 2021

HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT, TEORI, DAN PRAKTIK PENDIDIKAN”

 

A.       Pengertian Filsafat

 

Filsafat adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai keakar-akarnya. Sesuatu disini dapat berarti terbatas dan dapat pula berarti tidak terbatas. Bila berarti terbatas, filsafat membatasi diri akan hal tertentu saja. Bila berarti tidak terbatas, filsafat membahas segala sesuatu yang ada dialam ini yang sering dikatakan filsafat umum. Sementara itu filsafat yang terbatas adalah filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat seni dan lain-lainnya.

Filsafat membahas sesuatu dari segala aspeknya yang mendalam, maka dikatakan kebenaran filsafat adalah kebenaran menyeluruh yang sering dipertentangkan dengan kebenaran ilmu yang sifatnya relatif. Karena kebenaran ilmu hanya ditinjau dari segi yang bisa diamati oleh manusia saja, sesungguhnya isi alam yang dapat dinikmati hanya sebagian kecil saja. Misalnya mengamati gunung es, hanya mampu melihat yang di atas permukaan di laut saja. Sementara itu filsafat mencoba menyelami sampai kedasar gunung es itu untuk meraba sesuatu yang ada dipikiran dan renungan yang kritis.

 

B.  Filsafat Pendidikan

 

Menurut John Dewey, filsafat pendidikan merupakan suatu pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik yang menyangkut daya pikir (Intelektual) maupun daya perasaan (Emosional), menuju tabiat manusia.

Menurut imam Barnadib (1993:3), filsafat pendidikan merupakan ilmu yang pada hakikatnya merupakan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam bidang pendidikan. Baginya filsafat pendidikan merupakan aplikasi sesuatu analisis filosofis bidang pendidikan. Sedangkan menurut seorang ahli filsafat Amerika, Brubachen (Arifin, 1993:3), filsafat pendidikan adalah seperti menaruh sebuah kereta didepan seekor kuda, dan filsafat dipandang sebagai bunga, bukan sebagai akar tunggal pendidikan. Filsafat pendidikan dapat digunakan 2 pendekatan yaitu :

1.      Menggunakan pendekatan tradisional

2.      Menggunakan pendekatan yang bersifat kritis

          Pada pendekatan pertama digunakan untuk memecahkan masalah hidup dan kehidupan manusia sepanjang perkembangannya, sedangkan pada pendekatan yang kedua digunakan untuk memecahkan problematika pendidikan masa kini.

1.      Filsafat pendidikan bermakna sebagai filsafat tradisional

Filsafat pendidikan dalam artian ini dan dalam bentuknya yang murni telah berkembang dengan menghasilkan berbagai alternatif jawaban terhadap berbagai macam pertanyaan filosofis yang diajukan dalam problema hidup dan kehidupan manusia dalam bidang pendidikan yang jawabannya telah melekat dalam masing-masing, sistem dan aliran-aliran filsafat tersebut.

2.      Filsafat pendidikan dengan menggunakan pendekatan yang bersifat kritis.

Dalam pendekatan ini pemikiran logis krisis mendapatkan tempat utama. Demikian pula alat yang digunakan untuk menemukan jawaban secara filosofis terhadap pertanyaan filosofis, dengan 2 cara analisis dalam pendekatan filsafat yang bersifat kritis yaitu:

a.       Analisa bahasa (Linguistik)

               Analisa bahasa menurut Harry S. Schofield adalah usaha untuk mengadakan interpretasi yang menyangkut pendapat atau pendapat-pendapat mengenai makna yang dimilikinya.

b.      Analisan Konsep

Analisa konsep adalah suatu analisa mengenai istilah-istilah (kata-kata) yang mewakili gagasan atau konsep. Dan dalam analisa konsep, jawabannya berbentuk definisi-definisi, dan definisi yang tergantung pula pada tohok-tokohnya atau lembaga yang mengeluarkan atau menciptakannya.

 

Aliran Aliran Filsafat Pendidikan:

1.      Aliran Progresivisime

Progresivesme dalam pandangannya,selalu berhubungan dengan pengertian the liberal road to cultural yakni liberal bersifat terbuka, serta ingin mengetahui dan memiliki demi pengembangan pengalaman. Progresivisme disebut sebagai naturalisme, yang mempunyai pandangan bahwa kenyataan yang sebenarnya adalah alam semesta ini (bukan kenyataan spiritual dan super natural). Pendidikan progresivisme selalu menekankan pada tumbuh dan berkembang nya pemikiran dan sikap mental, baik dalam pemecahan masalah maupun kepercayaan diri peserta didik.progres atau kemajuan menimbulkan perubahan, sedangkan perubahan menghasilkan pembaruan.

2.      Aliran Essensialisme

Essensialisme merupakan perpaduan antara ide-ide filsafat idealisme dan realisme. Aliran tersebut akan tampak lebih mantap dan kaya dengan ide-ide, jika hanya mengambil salah satu dari aliran atau posisi sepihak. Pertemuan dua aliran itu bersifat eklektik, yakni keduanya sebagai pendukung tidak melebur menjadi satu atau tidak melepaskan identitas dan ciri masing-masing.

Essensialisme ini memandang bahwa pendidikan yang bertumpu pada dasar pandangan fleksibel dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah, mudah goyah, kurang terarah, dan tidak menentu serta kurang stabil. Oleh karena itu, pendidikan harus pijakan diatas nilai yang dapat mendatangkan kestabilan, telah teruji waktu, tahan lama, dan nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan terseleksi.

 

3.      Aliran Perenialisme.

Perenialisme berasal dan kata perenial diartikan sebagai contiuning throughtout the whole year atau lasting for a very long time abadi atau kekal dan dapat berarti pula tiada akhir. Dengan demikian, esensi kepercayaan filsafat perenial ialah berpegang pada nilai-nilai atau norma-norma yang bersifat abadi.

 

4.      Aliran Rekonstruksionalisme

Aliran ini sepaham dengan aliran perennialisme dalam menghadapi krisis kebudayaan modern. Bedanya cara yang dipakai berbeda dengan yang ditempuh oleh perennialisme.

Rekonstruktruksionalisme berutama yang dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tataran baru seluruh lingkungannya. Maka melalui lembaga dan proses pendidikan, aliran ini merombak tata susunan lama, dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang sama sekali baru.

 

 

 

 

C. Pengertian Teori Pendidikan

 

Pengertian teori pendidikan adalah teori yang digunakan dalam proses belajar mengajar. Salah satu penerapan teori belajar yang terkenal adalah teori dari John Dewey yaitu teori “ learning by doing”.

Teori pendidikan adalah merupakan hasil kegiatan intelektual berupa rumusan-rumusan tentang prinsip-prinsip dasar pendidikan. Prinsip-prinsip dasar ini berhubungan dengan masalah-masalah yang dihadapi pendidikan. Teori pendidikan disebut juga ilmu pendidikan sistematis. Dengan demikian maka fungsi teori pendidikan adalah merumuskan prinsip-prinsip pendidikan guna kepentingan pendidikan (Daniel,1985:37).

1)        Pendidikan memerlukan teori pendidikan, karena teori pendidikan akan memberikan manfaat sebagai berikut:Teori pendidikan dapat dijadikan sebagai pedoman untuk mengetahui arah dan tujuan yang akan dicapai.

2)        Teori pendidikan berfungsi untuk mengurangi kesalahan-kesalahan dalam praktik pendidikan. Dengan memahami teori, kita akan mengetahui mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan.

3)        Teori pendidikan dapat dijadikan sebagai tolak ukur sampai di mana kita telah berhasil melaksanakan tugas dalam pendidikan.

Istilah teori dapat diartikan sebagai berikut:
1) Teori merupkan suatu hepotesis tentang segala masalah, dapat diuji tetapi tidak perlu diuji.
2) Teori merupakan lawan dari praktik, merupakan pengetahuan yang disusun secara sistematis dari kesimpulan umum relatif.
3) Teori diartikan sebagai lawan dari hukum-hukum dan observasi, suatu deduksi dari aksioma-aksioma dan teorema-teorema suatu sistem yang pasti (tidak perlu di uji) secara relatif kurang problematis dan lebih banyak diterima atau diyakini.

 

D. Pengertian Praktik Pendidikan

 

Menurut Redja M, (Depdikbud: IKIP Bandung, 1991) dalam Uyun 2010: 1 mengatakan bahwa praktik pendidikan adalah seperangkat kegiatan bersama yang bertujuan membantu pihak lain agar mengalami perubahan tingkah laku yang diharapkan. Praktik pendidikan dapat dilihat dari tiga aspek:

1.             Aspek tujuan, membantu pihak lain mengalami perubahan tingkah  laku fundamental yang diharapkan.

2.             Proses kegiatan merupakan seperangkat kegiatan sosial/ bersama, usaha menciptakan peristiwa pendidikan dan mengarahkannya, serta merupakan usaha secara sadar atau tidak sadar melaksanakan prinsip-prinsip pendidikan.

3.              Aspek dorongan atau motivasi, untuk melaksanakan praktik pendidikan muncul karena dirasakan adanya kewajiban untuk menolong orang lain.

E. Filsafat dan Teori pendidikan

Hubungan antara filsafat dengan teori pendidikan yaitu Dewey berkesimpulan bahwa filsafat dirumuskan sebagai teori pendidikan yang bersifat dan konsepsional. Suatu definisi pendidikan yang lebih menekankan pada proses kegiatan yang datangnya dari dalam diri anak anak didik, sehingga kegiatan yang bersifat aktif dan selektif dari pihak anak didik dalam proses pendidikan dan pengajaran.

F.  Filsafat Pendidikan dan teori pendidikan

 

     Banyak diantara masalah-masalah kependidikan yang merupakan pertanyaan-pertanyaan filosofis, yang memerlukan pendekatan filosofispula dalam pemecahannya. Analisa filsafat terhadap masalah-masalah kependidikan tersebut, dengan berbagai cara pendekatannya akan dapat menhasilkan pandangan-pandangan tertentu mengenai masalah-masalah kependidikan dan atas dasar itu bisa disusun secara sistematis teori-teori pendidikan. Dengan demikian, terdapat hubungan fungsional antara filsafat dengan teori pendidikan.

Hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan tersebut, secara lebih rinci dapat diuraikan sebagai berikut:

1)    Filsafat, dalam arti analisa filsafat adalah merupakan salah satu cara pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan dalam memecahkan problematika pendidikan dan menyusun teori-teori pendidikannya. Dengan kata lain, teori-teori dan pandangan-pandangan filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh seseorang filosuf, tentu berdasarkan dan bercorak serta diwarnai oleh pandangan dan aliran filsafat yang dianutnya.

 

2)    Filsafat, juga berfungsi memberikan arah agar teori pendidikan yang telah dkembangkan oleh para ahlinya, yang berdasarkan dan menurut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai relevansi dengan kehidupan nyata. Artinya mengarahkan agar teori-teori dan pandangan filsafat pendidikan yang telah dikembangkan tersebut bisa diterapkan dalam praktek kependidikan sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan hidup yang juga berkemang dalam masyarakat. Disinilah letak fungsi filsafat dan filsafat pendidikan dalam memilih dan mengarahkan teori-teori pendidikan dan kalau perlu juga merevisi teori pendidikan tersebut, yang sesuai dengan relevan dengan kebutuhan, tujuan, dan pandangan hidup dari masyarakat.

 

3)    Filsafat, termasuk juga filsafat pendidikan, juga mempunyai fungsi untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori –teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan. Analisa filsafat berusaha untuk menganalisa dan emmberikan arti terhadap data-data kependidikan tersebut dan untuk selanjutnya menyimpulkan serta dapat disusun teori-teori pendidikan yang realistis dan selanjutnya akan berkembanglah ilmu pendidikan.

Dengan demikian, hubungan antara filsafat pendidikan dan teori pendidikan adalah bahwa yang satu suplemen terhadap yang lain dan keduanya diperlukan oleh setiap guru sebagai pendidik dan bukan hanya sebagai pengajar bidang studi tertentu

G. Teori Pendidikan dan Praktik Pendidikan

Pendidikan memiliki cakupan yang sangat luas. Ruang lingkupnya mencakup seluruh pengalaman dan pemikiran manusia tentang pendidikan. Pendidikan dapat diamati sebagai sebuah praktik dalam kehidupan, seperti halnya dengan kegiatan-kegiatan lain seperti kegiatan ekonomi dan sebagainya. Praktek pendidikan adalah seperangkat kegiatan bersama yang bertujuan membantu pihak lain agar memdapatkan tingkah laku yang diharapkan. Praktik pendidikan dapat dilihat dari tiga aspek, yaitu aspek tujuan, aspek proses kegiatan, dan aspek motivasi. Tujuan praktik pendidikan adalah membantu pihak lain agar mendapatkan perubahan yang fundamental (Sadullah,1994:2).
Teori pendidikan adalah merupakan hasil kegiatan intelektual berupa rumusanrunusan tentang prinsip-prinsip dasar pendidikan. Prinsip-prinsip dasar ini berhubungan dengan masalah-masalah yang dihadapi pendidikan. Teori pendidikan disebut juga ilmu pendidikan sistematis. Dengan demikian maka fungsi teori pendidikan adalah merumuskan prinsip-prinsip pendidikan guna kepentingan pendidikan (Daniel,1985:37).
Hubungan antara teori pendidikan dan praktik pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut:

1.             Teori/ilmu pendidikan teoretis sebagai penjabaran dari filsafat pendidikan melahirkan ilmu pendidikan praktis;

2.             Teori/ilmu pendidikan praktis menjadi panduan dalam kegiatan pendidikan langsung terutama kegiatan mendidik;

3.             Pengalaman mendidik memberikan umpan balik kepada teori pendidikan , yang mampaatnya memungkinkan untuk merevisi teori semula;

4.              Sebagai hasil revisi tersebut sangat mungkin teori pendidikan memberikan umpan balik kepada filsafat pendidikan (Pidarta, 2007:83-84).

J. M. Daniel (1985:122) menjelaskan tentang hubungan teori dan praktek sebagai berikut :

1.      Teori merupakan dasar bagi praktik. Sedangkan praktik merupakan alat penguji keampuhan teori;

2.      Teori itu untuk dipraktekkan, sedangkan praktik sebagai input baru bagi teori;

3.      Teori sebagai pengecek keberhasilan praktik, sedangkan praktik menjadi pemikiran kembali bagi teori.

Hubungan antara filsafat, teori dan praktek pendidikan sangat erat. Filsafat memberikan arahan dan pedoman bagi teori. Teori menjadi dasar bagi praktek. Praktek memberikan unpan balik bagi teori. Teori memberi unpan balik bagi filsafat.


 

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, muhammad.2015. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Prenadamedia Group

Jalaluddin dan Abdullah Idi. 2014. Filsafat Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers

A. Heris Hermawan , M.Ag.2012. Filsafat Pendidikan Islam..Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Islam

(Ali Saifullah H.A., Antara Filsafat dan Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1983)

Administrator. 2013. Pengertian Teori Pendidikan. http://www.psychologymania.com/2013/01/pengertian-teori-pendidikan.html 

(MAKALAH) Pengertian Studi dan Praktek Pendidikan, Pendidikan sebagai Ilmu, Pendidikan sebagai Seni, Pendidikan sebagai Paduan Ilmu dan Seni

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang

            Pendidikan saat ini sangatlah penting bagi kehidupan manusia, karena dapat menentukan nasib seseorang dimasa depan. Pendidikan bias ditinjau dari ilmunya dan memiliki seni. Saat ini masih banyak masyarakat yang tidak mengenal pendidikan, mereka hanya bias mencari sesuatu yang bias menyambung hidup mereka. Bahkan saat ini tidak sedikit anak bangsa yang nekat melakukan tindakan criminal demi mendapatkan sesuatu yang merekan butuhkan.

            Menurut John Dewey, pendidikan adalah suatu proses pembaharuan makna pengalaman, hal ini mungkin akan terjadi di dalam pergaulan biasa atau pergaulan orang dewasa dengan orang muda, mungkin pula terjadi secara sengaja dan dilembagakan untuk untuk menghasilkan kesinambungan social. Proses ini melibatkan pengawasan dan perkembangan dari orang yang belum dewasa dan kelompok dimana dia hidup.

            Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya.Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal.Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan.organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan.

            Dengan melaksanakan pendidikan seorang pendidik harus mampu mengetahui study dan ilmu pendidikan karena dengan itu maka seseorang itu akan mampu mendidik, selai itu pula pendidik juga ditekankan agar mampu menentukan cara (metode), objek serta tujuan dari pendidikan supaya tidak adanya kesalahan dalam praktek pendidikan.

            Mendidik adalah proses panjang dan sistematis yang harus ditempuh untuk menjadikan seseorang menjadi manusia yang terdidik. Mendidik berbeda dengan mengajar yang dapat diartikan sebagai proses transfer ilmu pengetahuan kepada peserta ajar yang mengandalkan pada acuan kurikulum, metode pembelajaran yang digunakan seorang pengajar, dan sebagainya. Mendidik mengandung makna dan tujuan yang lebih besar dan subsantif sebagai upaya perubahan tingkah laku dan moral atitude siswa didik ke arah yang lebih baik.

 

B. Rumusan Masalah

            Untuk menghindari adanya kesimpangsiuran dalam penyusunan makalah ini, maka penulis membatasi masalah-masalah yang akan dibahas diantaranya :

1.         Apa yang dimaksud dengan studi dan praktek pendidikan ?

2.         Apa yang dimaksud dengan pendidikan sebagai ilmu ?

3.         Apa yang dimaksud dengan pendidikan sebagai seni ?

4.         Apa yang dimaksud dengan pendidikan sebagai paduan ilmu dan seni?

 

C. Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa:

1.         Mampu menjelaskan dan mengertidefinisi studi dan praktek pendidikan.

2.         Mampu menjelaskan pendidikan sebagai ilmu.

3.         Mampu menjelaskan pendidikan sebagai seni.

4.         Mampu menjelaskan pendidikan sebagai paduan ilmu dan seni.

 

D. Manfaat

            Manfaat penulisan dalam makalah ini adalah untuk penulis dan pembaca adalah untuk menambah ilmu pengetahuan tentang Pendidikan dan sangat pentingnya pendidikan bagi setiap warganegara, guna memecahkan permasalahan hidup yang mereka emban.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Studi dan Praktek Pendidikan

            Pendidikan antara lain dapat dipahami dari dua sudut pandang, pertama dari sudut praktek sehingga kita mengenal istilah praktek pendidikan, dan kedua dari sudut studi sehingga kita kenal istilah studi pendidikan.

            Praktek pendidikan adalah kegiatan seseorang atau sekelompok orang atau lembaga dalam membantu individu atau sekelompok orang untuk mencapai tujuan pedidikan.Kegiatan bantuan dalam praktek pendidikan dapat berupa pengelolaan pendidikan (makro maupun mikro), dan dapat berupa kegiatan pendidikan (bimbingan, pengajaran dan atau latihan).

Menurut Redja M (Depdikbud : IKIP Bandung, 1991) yang dimaksud dengan praktEk pendidikan adalah seperangkat kegiatan bersama yang bertujuan untuk membantu pihak lain agar mengalami perubahan tingkah laku yang diharapkan, contohnya : seorang guru yang sedang menjelaskan masalah Biologi kepada siswanya di depan kelas. Di dalam pelaksanaan praktek pendidikan harus adanya interaksi ataupun hubungan diantara pendidik dan peserta didik dalam suatu lingkungan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan. Dengan tujuan tersebut maka seorang pendidik harus pandai memilih isi, alat dan cara (metode pendidikan) yang hendaknya sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan yang melekat pada peserta didik karena pada hakikatnya yang menjadi objek (sasarannya) adalah manusia bukan hewan.. Praktek pendidikan dapat dilihat dari tiga aspek:

a.       Aspek tujuan, membantu pihak lain mengalami perubahan tingkah laku fundamental yang diharapkan.

b.      Proses kegiatan merupakan seperangkat kegiatan sosial/ bersama, usaha menciptakan peristiwa pendidikan dan mengarahkannya, serta merupakan usaha secara sadar atau tidak sadar melaksanakan prinsip-prinsip pendidikan.

c.       Aspek dorongan atau motivasi, untuk melaksanakan praktik pendidikan muncul karena dirasakan adanya kewajiban untuk menolong orang lain.

            Studi pendidikan adalah upaya yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dalam rangka memahami pendidikan atau menghasilkan sistem konsep pendidikan. Terdapat beberapa metode dalam studi pendidikan, yaitu :

            Studi pendidikan melalui metode atau cara kerja awam yaitu upaya memahami pendidikan dengan cara berfikir commonsense dan pengamatan atau observasi sepintas yang kurang sistematis dan teliti. Studi pendidikan seperti ini biasanya dilakukan oleh masyarakat pada umumnya, dan menghasilkan konsep – konsep pendidikan yang kurang sistematis.

            Studi pendidikan melalui metode filsafiah (studi filsafiah pendidikan) adalah upaya memahami pendidikan melalui berfikir reflektif sistematis, kritis radikal, dan sinoptik untuk menghasilkan sistem gagasan tentang pendidikan yang komprehensif dan preskriptif. Mengingat cara berfikir filsafiah belum dikuasai banyak orang, maka studi filsafiah pendidikan umumnya dilakukan oleh para filsuf. Studi demikian telah dilakukan sejak lama, dan telah menghasilkan apa yang dikenal sebagai filsafat pendidikan.

            Studi pendidikan melalui metode ilmiah (studi ilmiah pendidikan) adalah upaya memahami pendidikan dengan menggunakan prosedur penelitian yang cermat dan terencana, atau melalui berfikir kritis dengan menggunakan logika tertentu dan pengamatan empiris yang teliti, sebagaimana dilakukan para ilmuwan.Namun demikian, pelaksanaan studi seperti ini bukan semata – mata monopoli para ilmuwan.Studi ilmiah pendidikan dapat dilakukan oleh siapapun dengan syarat yang bersangkutan telah menguasai metode penelitian ilmiah. Selain dilakukan oleh ilmuwan pendidikan, studi ilmiah pendidikan dapat pula dilakukan oleh para mahasiswa pada program studi kependidikan yang sedang menyusun skripsi , para guru, para dosen, dsb. Studi ilmiah pendidikan telah dilakukan oleh para ilmuwan atau para peneliti pendidikan sejak lama, dan telah menghasilkan sistem konsep pendidikan yang bersifat deskriptif maupun preskriptif/normatif yang disebut ilmu pendidikan.   

Contoh studi pendidikan : seorang mahasiswa sedang membaca buku Landasan Pendidikan, Sekelompok orang sedang berdiskusi atau melaksanakan seminar dengan tema ‘Pendidikan sebagai panduan ilmu dan seni”.

            Hubungan antara studi pendidikan dan praktek pendidikan.Terdapat hubungan komplementer antara studi pendidikan dengan praktek pendidikan. Hal ini sebagaimana dikemukakan Redja Mudyahardjo (Odang Muchtar, 1991) bahwa:

1.      Studi pendidikan menjadi dasar sesuatu praktek pendidikan.

2.      Studi pendidikan menjadi alat untuk mencek keberhasilan praktek pendidikan.

3.      Praktek pendidikan menjadi sumber bagi pelaksanaan studi pendidikan.

4.      Praktek pendidikan menjadi sarana pengujian kebenaran prinsip pendidikan hasil studi pendidikan

B. Pendidikan Sebagai Ilmu

            Fenomena pendidikan dapat dipelajari melalui metode ilmiah yang menghasilkan ilmu pendidikan yang menjadi dasar dan petunjuk dalam praktek pendidikan.Dengan dasar Ilmu Pendidikan para pendidik dapat menyusun desain pembelajaran yang memuat tujuan, isi, metode, teknik mengajar serta evaluasinya.Dengan demikian dapat dipahami bahwa praktek pendidikan merupakan aplikasi dalam ilmu pendidikan.Implikasi bahwa untuk menjadi seorang guru dapat dipelajari oleh siapapun melalui ilmu pendidikan tersebut.

            Pendidikan adalah suatu usaha untuk membekali peserta didik berupa ilmu, pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi diri sendiri, masyarakat dan lingkungan sekitar. Pendidikan merupakan suatu proses mentransfer ilmu yang pada umumnya yang dilakukan melalui tiga cara yaitu lisan, tulisan, dan perbuatan. Pada dasarnya, pendidikan erat hubungannya dengan ilmu karena obyek utama dari pendidikan adalah ilmu.

            Pendidikan sebagai ilmu merupakan seperangkat pengetahuan, pendapat atau pandangan mengenai fenomena/gejala pendidikan yang disusun secara sistematis sebagai hasil pemikiran kritis dengan menggunakan metode riset tertentu.

            Menurut George F.Kneller kata teori mempunyai 2 makna sentral yaitu (1) teori dapat menunjuk suatu hipotesis yang telah diverifikasi dengan observasi atau eksperimen, memandang teori dalam artian ini teori pendidikan pengembangan. (2) teori dapat merupakan sinonim umum untuk pemikiran sistematik, memandang teori ini pendidikan telah menghasilkan banyak teori.

            Menurut Ernest E.Bayles teori pendidikan tidak hanya berkenan dengan apa yang ada tapi juga apa yang seharusnya ada. D.H Hirst berpendapat bahwa fungsi utama dari teori pendidikan adalah untuk membimbing praktek pendidikan.

A. Pengertian ilmu pendidikan menurut para ahli :

1.      M.J. Langeveld, ilmu yang bukan saja menelaah objeknya untuk mengetahui tapi juga mempelajari betapa hendaknya bertindak.

2.      S. Brojonegoro, ilmu pendidikan yaitu teori pendidikan, perenungan tentang pendidikan, dalam arti luas ilmu pendidikan yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari soal-soal yang timbul dalam praktek pendidikan.

3.      Carter V. Good, suatu bangunan yang sistematis mengenai aspek-aspek kuantitatif, objektif dan proses belajar, menggunakan instrument secara seksama dalam mengajukan hipotesis-hipotesis pendidikan untuk diuji dan pengalaman seringkali dalam eksperimental.

4.      Imam Barnadib, ilmu yang membicarkan masalah-masalah umum pendidikan secara menyeluruh dan abstrak. Ilmu pendidikan bercorak teoritis dan bersifat praktis.

5.      Driyarkara, pemikiran ilmiah yang bersifat kritis, metodis, dan sistematis tentang realitas yang disebut pendidikan.

B. Persyaratan pendidikan sebagai Ilmuyaitu :

ΓΌ  Memiliki objek studi (objek material & objek formal)

*     Objek material : perilaku manusia

*     Objek formal: menelaah fenomena pendidikan dalam perspektif yang luas dan integratif.

 

ΓΌ  Memiliki sistematika

*     Melihat pendidikan sebagai gejala manusiawi

*     Melihat pendidikan sebagai upaya sadar

*     Melihat pendidikan sebagai gejala manusiawi, sekaligus upaya sadar dengan mengantisipasi perkembangan sosio budaya di masa depan

Seperti juga ilmu-ilmu lainnya, pendidikan sebagai ilmu memiliki fungsi menjelaskan, memprediksi, dan mengontrol gejala atau fenomena pendidikan.

C. Sifat-sifat pendidikansebagai :

1.      Empiris, karena objeknya dijumpai dalam dunia pengalaman.

2.      Rokhaniah, karena situasi pendidikan berdasar atas tujuan manusia tidak membiarkan pesrta didik kepada keadaan alamnya.

3.      Normatif, karena berdasar atas pemilihan antara yang baik dan yang buruk.

4.      Histories, karena memberikan uraian teoritis tentang sitem-sistem pendidikan sepanjang jaman dengan mengingat latar belakang kebudayaan dan filsafat yang berpengaruh pada jaman tertentu.

5.      Praktis, karena memberikan pemikiran tentang masalah dan ketentuan pendidikan yang langsung ditujukan kepada perbuatan mendidik.

            Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan suatu proses mentransfer ilmu. Sedangkan ilmu itu sendiri dapat diartikan rangkaian ektivitas manusia yang merupakan proses menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman dan kemasyarakatan untuk mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberi penjelasan ataupun melakukan penerapan yang tercangkup dalam materi pendidikan.

 

 

C. Pendidikan Sebagai Seni

            Pendidikan antara lain dapat dipelajari melalui ilmu pendidikan, namun demikian pendidikan (praktek pendidikan atau mendidik) juga adalah seni. Alasanya bahwa praktek pendidikan melibatkan perasaan dan nilai yang sebenarnya di luar daerah ilmu(ilmu yang berparadigma positivisme). Sehubungan dengan itu, Gilbert Highet (1954) mengibaratkan praktek pendidikan sebagaimana orang melukis sesuatu, mengarang lagu, menata sebuah taman bunga, atau menulis surat untuk sahabat. Sedangkan menurut Gallagher (1970) seni mendidik itu merupakan: (1) keterampilan jenius yang hanya dimiliki beberapa orang; dan (2) mereka tidak dapat menjelaskan secara sistematis bagaimana mereka mempraktekan keterampilan itu.

            Praktek pendidikan diakui sebagai seni, impilkasinya fungsi mendidik yang utama adalah menghasilkan suatu karya yang utuh, unik, sejati (bukan pura-pura atau dibuat-buat, anak tidak boleh dikorbankan sebagai kelinci percobaan), dan tiap pihak memperoleh manfaat.Selain itu, pendidik harus kreatif, skenario atau persiapan mengajar hanya dijadikan rambu-rambu saja, yang lebih penting adalah improvisasi.Pendidik harus memperhatikan minat, perhatian, dan hasrat anak didik.

D. Pendidikan Sebagai Paduan Ilmu dan Seni

            Pendidikan sebagai ilmu dan seni dikemukakan oleh A.S Neil.Menurutnya “Mendidik dan mengajar bukanlah hanya suatu ilmu, tapi juga seni.Mendidik yang diartikan sebagai seni ialah selayaknya kita dapat hidup dengan anak-anak dan dapat mengerti anak-anak sehingga seolah-olah kita menjadi seperti anak-anak.Misalnya gramophone dapat menyajikan pelajaran dengan baik, tetapi hal seperti itu tidak dapat menemukan suatu hubungan yang vital dengan anak-anak.

            Menurut aliran konstruksivisme. Implikasinya bahwa “ tugas guru adalah membantu agar siswa mampu merekonstruksi pengetahuannya sesuai dengan situasinya yang konkrit maka strategi mengajar perlu juga disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi murid. Mengajar adalah merupakan seni yang menuntut bukan hanya penguasaan teknik, melainkan juga intuisi “.

            Pandangan bahwa mengajar (mendidik) tidaklah seni semata, tetapi juga ilmu dikemukakan pula oleh Charles Silberman. Silberman mengatakan : “yakin mengajar seperti praktek kedokteran banyak berupa seni, yang memerlukan latihan bakat dan kreativitas. Tetapi  kedokteran, adalah menjadi sebuah ilmu, karena berkenaan dengan suatu perbendaharaan teknik-teknik, prosedur-prosedur, dan kecakapan-kecakapan yang dapat dipelajari dan diterangkan secara sistematis, dan oleh karena itu ditransmisikan dan dikembangkan” (Redja Musyahardjo).             Pandangan pendidikan sebagai seni tidak perlu dipertentangkan dengan pandangan pendidikan sebagai ilmu. Pendidik memerlukan ilmu pendidikan dalam rangka memahami dan mempersiapkan suatu praktek pendidikan, namun dalam prakteknya pendidik harus kreatif, scenario atau persiapan mengajar hanya dijadikan rambu-rambu saja, pendidik perlu melakukan improvisasi mengajar agar peserta didik mampu memahami dengan mudah materi yang akan desampaikan salah satunya dengan kreativitas yang menuntut adaya seni didalamnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

A. Kesimpulan

            Pengertian antara praktek pendidikan studi pendidikan hampir sama namun pada kenyatannya berbeda yaitu pada ruang lingkupnya. Praktek pendidikan memiliki tiga aspek yaitu aspek tujuan, kegiatan dan dorongan (motivasi) jadi praktek pendidikan menitikberatkan pada kegiatan sedangkan studi pendidikan lebih menitikberatkan terhadap teori, dalam hal ini teori pendidikan.

            Karakteristik Ilmu pendidikan antara lain : obyek studi, metode, isi, fungsi dan ilmu-ilmu yang lainnya. Ada beberapa manfaat studi pendidikan antara lain :

·      Studi pendidikan dapat dijadikan sebagai pedoman untuk mengetahui arah dan tujuan yang akan dicapai.

·      Studi pendidikan berfungsi untuk mengurangi kesalahan-kesalahan dalam praktek pendidikan.

·      Studi pendidikan dapat dijadikan sebagai tolak ukur sampai dimana kita telah berhasil melaksanakan tugas dalam pendidikan

            Ada banyak pendapat yang mempertentangkan tentang pendidikan sebagai ilmu dan pendidikan sebagai seni.Padahal sebenarnya kedua hal itu tidak perlu dipertentangkan karena keduanya merupakan aspek yang penting dalam pendidikan dimana peran pendidik itu harus mempersiapkan praktek pendidikannya dengan baik dan dalam prakteknya itu harus kreatif dan harus melakukan improvisasi yang baik dengan peserta didik.

 

B. Saran

            Di dalam pelaksanaan proses pembelajaran seorang pendidik hendaknya harus mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari obyek, metode, isi bahakan fungsinya supaya tujuan pendidikan itu bisa tercapai dengan baik dan juga dalam pendidikan itu harus dijadikan bukan hanya sebagai ilmu namun harus dijadikan sebagai seni sehingga pendidik dapat berkreasi di dalam mengajarnya, sehingga anak didik tersebut dapat merasakan kenyamanan di dalam kegiatan belajar mengajarnya dan mengindahkan rasa bosan dan jenuh dalam pembelajaran.

 


 

 

DAFTAR PUSTAKA

https://budihendrawan.wordpress.com/2009/11/30/pendidikan-sebagai-ilmu-dan-seni/

http://ranggafebrian17.blogspot.co.id/2014/08/pendidikan-sebagai-ilmu-dan-seni.html

https://sulipan.wordpress.com/2009/10/02/pengertian-dan-jenis-landasan-pendidikan/

http://arinafikri.blogspot.co.id/2015/05/konsep-pendidikan-sebagai-ilmu-dan-seni.html

http://mustofaabihamid.blogspot.co.id/2014/03/karakteristik-filsafat-teori-dan.html

http://darrelditaa.blogspot.co.id/2013/06/pendidikan-sebagai-ilmu-dan-seni.html

http://ranggafebrian17.blogspot.co.id/2014/08/pendidikan-sebagai-ilmu-dan-seni.html

http://nuy-acbt.blogspot.co.id/2011/11/landasan-pendidikan.html

http://sulipan.wordpress.com/2009/10/02/pendidikan-sebagai-ilmu-dan-seni/

http://triyanapp.blogspot.com/2012/09/pendidikan-sebagai-ilmu-dan-seni.html